Menuju Keseimbangan Baru Industri Penerbangan Nasional

By Iman Achdiat On Feb 14, 2019

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Kerugian yang diderita operator penerbangan nasional beberapa tahun terakhir merupakan pemicu dari kebijakan kenaikan tarif penerbangan baik tiket penumpang/kargo dan penerapan bagasi lebih di penerbangan domestik. Apalagi kenaikan biaya operasi khususnya biaya avtur dimana belum ada tanda-tanda penurunan bahkan stagnan dilevel 60 dolar/barel meskipun kurs dolar sudah mendekati level 14,000. Sehingga operator penerbangan lebih fokus untuk mengadakan penerbangan yang menguntungkan daripada sekedar meningkatkan utilisasi pesawat. Apalagi pada saat low season sekarang ini, operator penerbangan cenderung memarkir pesawatnya dari pada menerbangkan pesawat dengan kerugian. Akibatnya pembatalan penerbangan di hampir semua Bandara telah menjadi kejadian yang terus berulang sehingga telah menurunkan pendapatan Angkasa Pura 1 dan 2.

Walaupun terdapat perlawanan dari masyarakat berupa petisi penurunan harga dan untuk itu operator penerbangan telah menurunkan harga untuk mengakomodasi permintaan tersebut. Namun kenyataannya bahwa penurunan harga tersebut belum mampu untuk meningkatkan traffic bahkan penurunan penumpang khususnya di domestic masih terus berjalan. (Okefinance, 11 Februari 2019)

Kebijakan tersebut tentunya diterapkan dengan pertimbangan yang matang untuk meningkatkan kinerja operator penerbangan dimana diharapkan keseimbangan demand/supply baru dapat tercapai dan pada gilirannya menyehatkan ekosistem industri penerbangan nasional.

Pertanyaan lebih lanjut akankah kebijakan di atas dapat menyehatkan ekosistem industri penerbangan nasional atau sebaliknya??

Kementrian BUMN sebagai pemegang saham cenderung mendukung kebijakan yang dilakukan oleh Garuda Group agar dapat membuahkan keuntungan bagi kelangsungan hidupnya. Kenyataannya bahwa harga saham Garuda sempat melonjak ke level 520 atau 200% di atas harga awal desember 2019. Meskipun pada 14 Februari berada pada level 448, sentiment positive capital market akan efektifitas kebijakan kenaikan harga untuk meningkatkan profitabilitas Garuda group.

Lebih jauh penurunan penumpang udara tersebut diduga dapat memindahkan penumpang pesawat agar dapat memenuhi jalan-jalan tol yang dibangun. Apalagi pertumbuhan kredit kendaraan yang sedang lesu, dikhawatirkan ada hidden agenda dari pembiaran ini (Detik finance , 09 Feb 2019)

Walaupun diakui bahwa substitusi angkutan darat dan antar pulau belum memberikan solusi secara langsung karena relatif waktu tempuh perjalanan sangat berbeda jauh.

Langkah cepat Presiden Jokowi yang meminta Pertamina untuk mereview harga Avtur (JawaPos.com ,14 Feb) dan Garuda group agar menurunkan harga tiket penerbangan.(CNN Indonesia,14/02/2019), merupakan bentuk komitmen pemerintah kepada industri penerbangan dan usaha untuk meningkatkan trafik penumpang domestik.

Namun demikian apabila kondisi ketidak pastian yang ditandai penurunan traffic terus berlangsung, niscaya terdapat kemungkinan operator penerbangan akan bangkrut.

Pemerintah selaku regulator dan pemain di bisnis penerbangan nasional melalui Garuda group seyogianya melihat dari perspektif ketahanan penerbangan nasional dimana mempertimbangkan semua aspek operasi penerbangan. Regulator dapat memberikan ‘pertolongan pertama’ industri penerbangan dengan memberikan insentif sekaligus mengakomodasi kepentingan yang lebih luas khususnya hotel, restoran dan souvenir shop. Dimana pada gilirannya dapat meningkatkan perekonomian masyarakat kecil didaerah khususnya daerah tujuan wisata.

Penyehatan ekosistem industri penerbangan nasional dapat tercipta dengan membentuk Dewan Penerbangan Nasional, yang akan memberikan arah dan strategi yang komprehensif untuk meningkatkan daya tahan industri penerbangan nasional secara keseluruhan. Mengingat keunikan geografis Indonesia dengan lebih dari 10.000 pulau dan lebih dari 250 juta penduduk.

Seperti yang dilakukan pemerintah Tiongkok untuk melindungi industri penerbangannya telah menerapkan kebijakan tertentu mengingat keunikan kondisi geografis dan pasar yang besar. (Reuter, May 14, 2018, China to ease ‘one route, one airline’ policy for Chinese carriers) Road map untuk menciptakan ekosistem industri penerbangan nasional yang sehat dalam usaha menjaga ketahanan penerbangan nasional seyogianya menjadi prioritas utama agar semua stakeholder dapat mendapatkan benefit secara proporsional dari pertumbuhan traffic pasar domestic.

Source: airmagz.com 

Ujian Industri Penerbangan Nasional di Awal 2019

By Iman Achdiat On Jan 21, 2019

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Strategi market driving Garuda Group dengan akuisisi Sriwijaya Air dan kebijakan kenaikan tarif penerbangan, telah menelurkan persepsi bahwa kemungkinan terdapat kesepakatan dalam kebijakan kenaikan tarif penerbangan. Mengingat saat ini hanya Garuda dan Lion Group yang bermain di industri penerbangan nasional.

Tingginya tarif penerbangan telah direspon konsumen dengan petisi mahalnya tarif penerbangan sehingga INACA, Asosiasi Penerbangan Domestic mengadakan kesepakatan untuk menurunkan tarif penerbangan secara bersama-sama.

Berdasarkan fakta diatas, KPPU seharusnya meneliti lebih jauh, apakah terdapat kesepakatan dalam hal kenaikan tarif penerbangan yang telah merugikan kepentingan konsumen?

Dari perspektif yang lain bahwa ketidakpahaman operator penerbangan akan preferensi passenger needs and wants merupakan biang keladi kisruhnya persepsi mahalnya tarif penerbangan nasional. Apalagi dalam era digital dimana pembentukan opini publik dengan mudah dicapai dalam waktu singkat.

Kelemahan kedua adalah kekurangpekaan operator penerbangan ditahun politik dimana mereka semestinya bisa menahan diri untuk tidak menerapkan kebijakan yang dapat memunculkan kegaduhan di industri penerbangan nasional.

Meskipun kebijakan tersebut masih di dalam aturan koridor batas atas, namun apabila diluncurkan tidak pada momen yang tepat, akan mendapat respon yang kurang diharapkan. Misalnya apabila kebijakan tersebut dilansir setelah 17 April 2019, maka kemungkinan respon regulator dan masyarakat akan berbeda!

Kenyataannya implementasi kebijakan tersebut telah memukul balik industri penerbangan nasional. Pasalnya, kebijakan menaikan tarif dimasa depan akan memperoleh tantangan besar dari konsumen. Apalagi sudah terdapat preseden dengan petisi yang diluncurkan pada sosial media, yang berhasil menurunkan harga tiket penerbangan.

Terbukti Chairman INACA telah meminta proteksi industri penerbangan nasional kepada pemerintah berupa pembatasan operator asing beroperasi di Indonesia, penurunan harga fuel, airport tax dan air navigasi. (Neraca, Sabtu, 19 Januari 2019)

Bahkan kalau ternyata memang terbukti ada indikasi kesepakatan untuk menaikan tarif yang merugikan kepentingan konsumen, tentunya KPPU akan memberikan sanksi kepada operator penerbangan sesuai dengan perundangan yang ada.

Untuk itu Capital Market kembali menghukum industri penerbangan dengan penurunan saham Garuda dan Indonesia Airasia sebesar 10% akibat kisruh mahalnya harga tiket dan prospek suram industri penerbangan nasional dimasa depan.

Pertanyaannya strategi apa yang akan diambil sebagai tindakan preventive agar spiral down tidak berkelanjutan?

Di dalam praktek bisnis penerbangan bahwa harga ditentukan oleh supply dan demand pada setiap rute. Pada rute dimana supply lebih besar dari demand maka harga turun. Sebaliknya harga naik apabila demand lebih besar dari supply.

Lebih jauh bahwa masing-masing rute mempunyai pertumbuhan penumpang sendiri-sendiri, tergantung pada pertumbuhan ekonomi masing-masing propinsi.

Seperti pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara sebesar 6,01 % di tahun 2018, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Dengan prediksi pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih baik ditahun 2019 maka diantisipasi pertumbuhan traffic dari/ke Manado akan lebih dari 12%.

Untuk itu perlu diselidiki lebih lanjut arah pertumbuhan tersebut baik dari segi pertumbuhan penumpang pada masing tujuan penumpang ke Manado dan preferensi penumpang dari aspek hari/jam operasi dll.

Berdasarkan observasi, sampai saat ini operator penerbangan menentukan pembukaan rute hanya berdasarkan data traffic yang sangat terbatas bahkan seringkali insting saja.

Pada pembukaan rute baru apabila load factor rendah maka fekuensi akan dikurangi sampai pada titikbreak even dengan frekuensi tertentu. Lebih lanjut apabila titik tersebut tidak dicapai maka rute akan ditutup.

Di pihak lain operator penerbangan terus menambah jumlah pesawat khususnya narrow body aircraftyang perlu dioperasikan karena harus membayar biaya sewa pesawat di dalam mata uang asing.

Meskipun bisnis model LCC mempunyai cara unik dalam melakukan pembukaan rute penerbangan baru, seperti rute Jakarta-Kota Kinabalu oleh Airasia Group yang kemudian ditutup ditahun 2016 karena terus merugi akibat jumlah penumpang tidak memadai.

Pembukaan penerbangan Kuala Lumpur-Siborong borong untuk penetrasi pasar wisata, dimana kelanjutan penerbangan ini akan tergantung promosi pariwisata di mancanegara.

Pengadaan riset yang andal untuk menentukan jumlah frekuensi dan rute penerbangan, baik existing dan new routes, serta menentukan preferensi penumpang masing-masing daerah yang unik. Niscaya merupakan solusi agar terdapat keseimbangan antar supply dan demand pada setiap rute penerbangan dan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan serta memenangkan persaingan sehingga pada gilirannya akan memberikan keuntungan operator penerbangan dimasa yang akan datang.

In the Midst of Chaos, there is Opportunity, Sun Tzu

Source: airmagz.com

Peta Persaingan Baru Industri Penerbangan Nasional

By Iman Achdiat On Jan 8, 2019

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Capital market telah menjawab langkah Garuda Group sebagai new market leader di pasar domestik khususnya inisiatif kerja sama operasi Sriwijaya Air, dengan terus memberikan sentimen positif berupa peningkatan nilai saham GIAA sebesar 58% ke level 316. Begitu juga peningkatan nilai saham IAA (Indonesia Airasia) ke level 296 atau peningkatan lebih dari 48% di awal tahun 2019 dibanding tahun lalu dimana saham GIAA dan IAA masih di level 200.

Sentimen positif didorong oleh prediksi pertumbuhan penumpang di pasar domestik sebesar 10-12% sehingga industri penerbangan akan lebih sehat di tahun 2019

Sementara itu komunikasi Garuda Group dengan Airasia untuk melakukan kerjasama operasi cenderung stagnan. Apalagi dengan pernyataan Tan Sri Tony Fernandes selaku Chairman Airasia Group yang akan fokus untuk melakukan penetrasi di pasar Indonesia pada tahun ini.

Kemungkinan besar Airasia Group akan mengembangkan potensi pasar domestik Indonesia dengan brand Indonesia Airasia seperti yang dilakukan di beberapa negara Asia.

Kejutan besar diawal tahun 2019 adalah langkah agresif Lion Group dengan menerapkan biaya excess baggage, dengan demikian otomatis akan menaikan harga jual Lion Air pada semua rute penerbangan domestik.

Kebijakan kenaikan harga tersebut telah mengubah positioning Lion Group, mengingat selama ini Lion Air sudah dipersepsikan sebagai operator penerbangan termurah di Indonesia.

Di dalam perspektif yang lebih besar, Garuda Group sebagai market leader telah menjalankan strategi market driving secara efektif.

Terbukti telah mempengaruhi kebijakan harga Lion group dengan mengenakan biaya excess baggage untuk setiap penumpang.

Konsekuensinya maka akan terjadi kenaikan harga di pasar domestik secara umum berkisar 10-20% atau peningkatan pendapatan dan yield operator penerbangan domestik rata-rata 15%.

Di pihak lain telah terjadi perubahan perilaku penumpang di mana terdapat penurunan penumpang domestik pada liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019. Namun demikian tujuan Bali masih terdapat peningkatan penerbangan sebesar 1,69%. Sedangkan peningkatan penerbangan untuk tujuan luar negeri sebesar 8,89% (Kompas.com, 7 Januari).

Perubahan Perilaku Penumpang

Perubahan customer buying behavior akan terus berlanjut di tahun 2019 mengingat terdapat kenaikan harga tiket penerbangan khususnya di domestik, perubahan tujuan destinasi liburan mengingat terjadi gempa bumi/tsunami di daerah tertentu. Untuk itu operator penerbangan sebaiknya mereview ulang market positioning untuk memperebutkan lebih dari 100 juta penumpang di tahun 2019 khususnya market milenial (CAPA, April 2018).

Mengingat harga bukanlah satu-satunya metode untuk memenangkan hati penumpang maka seharusnya masing-masing operator penerbangan khususnya LCC (Low Cost Carrier), untuk meninjau ulang target market segment dan value proposition. Tujuannya agar dapat mempertahankan bahkan meningkatkan load factor, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dan keuntungan operator penerbangan.

Diprediksi peperangan sengit akan terjadi pada rute-rute dengan high density dan high yield, sementara ini yang diuntungkan adalah Garuda group.

Mengingat Brand Image yang relative kuat dan didukung tingkat OTP (On Time Performance) yang baik sehingga selalu menjadi Top of Mind penumpang Domestik.

Garuda Group, Sriwijaya Air juga dapat mengambil keuntungan dengan mengambil posisi unik di pasar domestik khususnya aplikasi bisnis model hybrid, dimana penumpang membayar sedikit lebih mahal tapi mendapat layanan premium.

Namun tantangan terbesar Garuda Group adalah untuk membagi rute-rute yang dioperasikan sehingga brand Garuda, Citilink dan Sriwijaya tidak saling membunuh! Keberpihakan kepada preferensi penumpang dan penentuan besarnya target market segment pada setiap rute untuk masing-masing brand akan menentukan keberhasilan Garuda group agar terus mendominasi pasar domestik.

Peningkatan harga jual di pasar domestik tentunya akan menjadi kesempatan untuk Indonesia Airasia untuk melakukan penetrasi di pasar high density/high yield. Alalagi dengan brand image yang kuat dan inovasi dibisnis proses untuk terus menekan biaya operasi, akan merupakan penantang tangguh bagi lawan-lawan di tahun 2019.

Pekerjaan rumah Lion Group sangat banyak khususnya setelah musibah JT 610. Karenanya perbaikan brand image seharusnya menjadi prioritas utama. Brand image campaign menjadi sangat krusial melalui program perbaikan perusahaan yang seyogianya dikampanyekan secara intensif sehingga segera meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Kekuatan network dengan jumlah frekuensi penerbangan Lion Group di domestik, tentu akan menjadi new value proposition yang tidak dapat ditiru pesaing.

Peperangan memperebutkan pasar domestik, diprediksi akan berlanjut pada strategi komunikasi khususnya di media sosial agar menjadi pilihan utama konsumen khususnya pada segment milenial.

Selamat bersaing dengan kreatif untuk memuaskan passenger needs and wants! Seperti yang dikatakan oleh Mercedes Lackey, Change or stagnant! Keep moving or Die!!

Selamat Tahun Baru 2019.

Source: www.airmagz.com/36794/

Garuda ingin buka penerbangan nonstop ke pesisir

barat AS

Rabu, 17 Februari 2016

Garuda Indonesia berharap bisa segera meluncurkan layanan penerbangan nonstop ke west coast atau pesisir barat Amerika Serikat. Ini jika Federal Aviation Administration (FAA) Paman Sam menaikkan rating keselamatan penerbangan Garuda Indonesia menjadi kategori I.

Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, saat ini, FAA tengah melakukan evaluasi. Hasilnya diharapkan keluar paruh kedua tahun ini.

"Penerbangan itu bakal menguntungkan Garuda atau kompetitor yang membuka penerbangan tujuan sama dengan satu kali setop," katanya di Singapura, seperti diberitakan Bloomberg, Rabu (17/2).

Maskapai penerbangan pelat merah itu juga berharap bisa memulai penerbangan nonstop ke London. Namun, itu masih terkendala landasan pacu bandara internasional di Jakarta yang belum bisa mengakomodasi pendaratan pesawat berbadan lebar, Boeing 777-300 ER.

Garuda juga berencana memiliki armada dengan konfigurasi dua kelas kabin. Ini untuk melayani penerbangan ke Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Asia Utara.

"Konfigurasi yang sama juga berlaku untuk pesawat baru yang kami pesan," kata Arif.

"Hanya empat armada Boeing 777 yang digunakan untuk penerbangan ke Amsterdam dan London yang akan menawarkan kursi first-class."

Source: merdeka.com

0