Memanfaatkan Bantuan Luar Negeri

Oleh: Jack C. Kussoy

Kamis, 17 Maret, 2016

Bulan November lalu saya ditugaskan untuk mendampingi delegasi Indonesia yang berkunjung ke AS untuk studi tour. Kunjungan berlangsung tiga minggu, dimulai di Washington, DC, kemudian ke Boston, Massachusetts, seterusnya ke Corpus Christi, Texas, dan berakhir di Honolulu, Hawaii. Sempat mampir juga di Rhode Island, sehingga total lokasi kunjungannya empat negara bagian plus ibu kota, Washington, D.C.

Fokus kunjungan adalah perikanan dan kelautan. Delegasi terdiri dari tujuh orang, tiga di antaranya dari Departemen Perikanan dan Kelautan, satu pemerhati lingkungan, dua wartawan dan satu pengusaha perikanan, mewakili Jakarta, Jawa Timur, Maluku, Papua Barat dan NTT.

Kunjungan ini adalah bagian dari kunjungan kepemimpinan internasional, semacam program diplomasi publik yang sudah berjalan puluhan tahun untuk hampir semua negara di dunia, dibiayai oleh Paman Sam. Ditangani Department of State (Deparlu AS) melalui kantor-kantor Kedutaan dan Konsulat di seluruh dunia. AS mengundang tokoh-tokoh pemimpin masa depan se dunia, usia tigapuluh–empatpuluh tahun, dari segala bidang: pemerintahan, pendidikan, kesenian, olah raga, dunia usaha dan sosial (termasuk rohaniwan). Tujuan program adalah membina hubungan baik dengan negara-negara sahabat sambil memperluas pengetahuan dan persepsi para perserta.

Bulan berikutnya, Desember, saya sempat membantu program lain, kali ini untuk delegasi tujuh orang mewakili Pemda, lembaga hukum dan mass media dari SulSel, SulTra, NTT, JaTim dan Gorontalo dalam kunjungan ke Washington-DC, Ohio, Maryland dan California untuk mempelajari “local governance,” sistem pemerintahan lokal di AS.

Sudah banyak program dengan berbagai topik telah dinikmati oleh para pemimpin dan calon pemimpin Indonesia. Ada program lain, khusus untuk militer dan kepolisian. Empat tahun terakhir ini saya mendampingi banyak tim Polda DKI, Bali, Jawa Barat, Sumatra Utara, dll., dua-tiga tim per tahun, 15 sampai 20 orang per tim. Dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah Federal AS, tiap tim berlatih tiga sampai lima minggu di AS, mendalami anti terorisme, pengamanan pemimpin negara, penanganan bahan peledak, anjing pelacak, dll.

Berbeda dengan tim-tim kepolisian yang sepengetahuan saya ditentukan oleh Polri pusat, peserta-peserta program pemimpin masa depan dipilih langsung oleh Kedubes dan Kon-Jen AS. Tidak ada peserta yang diterima karena melamar atau lewat rekomendasi dari pihak lain.

Besar manfaat yang diterima baik oleh para peserta dan negara-negara yang diwakili dari program latihan dan studi banding ini. Ada lagi program lain seperti kerjasama akademis. Banyak ilmuwan AS dengan bangga menceriterakan pengalaman dan kenangan mereka sewaktu melaksanakan penelitian, lokakarya, pertukaran kunjungan dan kerjasama antar universitas di Danau Toba, Laut Sulawesi, Papua, Gajah Mada, Patimura, dan banyak universitas di Jawa lewat program ini.

Sangat menyenangkan bertemu dan berkenalan dengan calon-calon pemimpin negara lewat program-program studi tour seperti ini. Tapi baru satu kali saya melihat utusan Sulawesi Utara. Itu terjadi empat, lima tahun lalu di Austin, Texas, ketika saya bertemu dengan seorang rohaniwati yang mewakili kaum perempuan dari Minahasa. Mungkin sudah ada utusan-utusan Sulut lain yang berkunjung dan ditangani oleh rekan-rekan lain, saya tidak tahu.

Benar, untuk program-program kepemimpinan internasional peminat tidak bisa melamar. Perwakilian AS yang mencari, menilai dan memilih calon-calon yang dipandang berpotensi menjadi pemimpin di masa depan. Handicap atau halangan bagi putra-putri Sulut untuk berpartisipasi dalam program-program ini adalah, salah satu, kantor perwakilan AS yang terdekat adanya di Surabaya. Sedangkan, identifikasi dan seleksi calon-calon partisipan dimulai lewat kontak langsung dan dari media sehari-hari.

Akademisi Sulut dapat merintis, memperluas dan mempererat hubungan dengan colleges dan universities AS. Cari topik ilmiah yang bermanfaat, terumbu karang misalnya. Kalau sudah dapat kontak dengan tokoh atau badan peneliti AS yang berminat, hubungi kantor USAID di kedutaan untuk pendanaan. Juga, ada banyak putra-putri asal Indonesia dan Kawanua di institusi-institusi pendidikan tinggi AS. Minta bantuan mereka untuk mencarikan partner riset. Tiap tahun Kongres AS menganggarkan dana bantuan luar negeri untuk hampir semua negara, untuk penanggulangan bencana, kemanusiaan, pendidikan, sosial, dll.

Dinas-dinas, universitas, organisasi sosial, kota-kota dan masyarakat Sulut perlu berinisiatif membina hubungan dengan Kedutaan dan Konsulat Jenderal AS dan negara-negara lain. Lewat korespondensi, online dan temu muka. Undang mereka ke daerah. Temukan hal-hal yang penting dan menarik atau masalah unik yang dapat dijadikan topik diskusi dan riset. Cari terobosan untuk kerjasama dagang, ekonomi, dan militer (logistik) kalau mungkin. Mengapa Sulut tidak pernah mengadakan pameran dagang di California? Kalau kegiatan AS banyak di Sulut, siapa tahu AS satu waktu perlu membuka Konsulat di Manado, pintu gerbang Pasifik.

Ada banyak program bantuan dan kerjasama dari AS dan negara-negara asing lain yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia. Cari tahu, pelajari dan ambil langkah untuk membuat kontak. Semoga daerah dan putra-putri kita mendapat faedah dari program-program itu.

Jack C. Kussoy

[email protected]

Pengurus dan Anggota

Sanggar Kesenian Manado (SKM)

California - USA

mengucapkan selamat menjalankan tugas sebagai Gubernur Sulawesi Utara,

Bapak Olly Dondokambey

dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara,

Bapak Steven Kandouw.

0